Dari Dapur Rumah ke Pasar Digital: UMKM Keripik Sidomukti Bangkit Bersama Inovasi UNG
Di sebuah desa yang tenang di Kecamatan Mootilango, Kabupaten Gorontalo, aroma keripik yang digoreng perlahan kini berpadu dengan semangat perubahan. Desa Sidomukti, yang selama ini dikenal sebagai sentra industri rumahan keripik, mulai menapaki babak baru transformasi usaha. Bukan sekadar meningkatkan produksi, tetapi juga menembus pasar digital berkat sentuhan inovasi dari Program Vokasi Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), tim terdiri dari dosen Vokasi UNG yakni : Mohammad Imran (Prodi Arsitektur Bangunan Gedung); Romi Djafar (Prodi Teknologi Rekayasa Energi Terbarukan) dan Roys Pakaya (Prodi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak) menghadirkan solusi nyata bagi pelaku UMKM keripik yang selama bertahun-tahun bergelut dengan keterbatasan alat produksi dan pemasaran konvensional. Program ini memadukan Teknologi Tepat Guna (TTG) dan digitalisasi pemasaran sebagai satu paket pemberdayaan yang berkelanjutan.
Sebelum program ini berjalan, sebagian besar pelaku UMKM di Sidomukti masih mengandalkan cara manual dalam mengiris bahan baku keripik. Prosesnya memakan waktu, tenaga dan hasil irisan kerap tidak seragam. Kondisi ini berdampak langsung pada kapasitas produksi dan kualitas produk. Melihat persoalan tersebut, tim memperkenalkan mesin perajang/pengiris sebagai Teknologi Tepat Guna yang disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha lokal. Melalui rangkaian kegiatan sosialisasi, pelatihan, hingga pendampingan, pelaku UMKM tidak hanya menerima alat, tetapi juga dibekali keterampilan mengoperasikannya secara aman dan efektif. Hasilnya signifikan. Sekitar 85 persen proses produksi yang sebelumnya manual kini telah beralih menggunakan teknologi. Produksi menjadi lebih cepat, irisan lebih seragam, dan kualitas keripik semakin konsisten.
Transformasi tidak berhenti di dapur produksi. Tantangan lain yang dihadapi UMKM Sidomukti adalah keterbatasan pemasaran yang masih bergantung pada penjualan dari rumah ke rumah dan media sosial sederhana. Menjawab tantangan tersebut, tim mendorong digitalisasi pemasaran dengan memperkenalkan aplikasi dan platform marketplace melalui brand “Keripik Sidomukti”. Para pelaku UMKM dilatih mengelola etalase digital, menyusun deskripsi produk, menentukan harga, hingga melayani konsumen secara daring. Kini, sekitar 80 persen aktivitas pemasaran telah beralih ke kanal digital. Produk keripik Sidomukti tak lagi hanya beredar di warung sekitar desa, tetapi mulai menjangkau pasar yang lebih luas, membuka peluang peningkatan pendapatan dan keberlanjutan usaha. Keunggulan program ini terletak pada pendekatannya yang berkelanjutan. UNG tidak hanya hadir sebagai fasilitator teknologi, tetapi juga membangun jejaring kolaborasi dengan Pemerintah Desa Sidomukti, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Gorontalo, serta sektor perbankan seperti BRI, BNI, dan BSG. Kolaborasi ini membuka akses pelaku UMKM terhadap literasi keuangan, transaksi non-tunai.melalui QRIS, hingga peluang pembiayaan ringan. Dengan ekosistem pendukung tersebut, adopsi teknologi dan pemasaran digital diharapkan terus berkembang meskipun program PKM telah selesai.